Aturan Kaku Perempuan
“Buat apa sih ikut begituan?
Gak ada gunanya ?
Bahaya !!
Kuliah Kuliah aja yang bener!!”
Ekspresi ibu dan ayah saya tidak pernah berubah setiap melarang saya mengikuti kegiatan yang ingin saya ikuti.
Beberapa hari lalu waktu saya memperlihatkan pengumuman open rekruitmen K2N (Kuliah Kerja Nyata) UI, ayah saya melihat daftar pulau yang akan menjadi pilihan saya dengan muka yang tidak menyenangkan.
Terdapat pulau Waigeo dan pemukiman korban tsunami Wasior menjadi kandidat pilihan saya, ibu saya dengan pikiran pikiran negatif nya mulai merocos tentang gempa susulan, tsunami dan bla bla bla …
Saya masih ingat beberapa tahun lalu waktu saya pulang membawa formulir pendaftaran BKP Mapala UI 2009, dengan riang saya beri tahu ibu dan ayah saya kalau saya ingin ikut Mapala UI dan dengan kesal ibu saya melarang.
***
Bukan hanya saya yang sering diperlakukan seperti itu oleh orang tua atau siapapun yang lebih tua (kakak, om, tante ) banyak teman saya yang perempuan merasakan hal yang sama.
Kalimat senjata yang biasa dikeluarkan orang tua pada kami perempuan;
“Anak perempuan kuliah ya kuliah aja, duduk manis dikampus terus pulang gak usah ikut ikut ke desa, ke pengungsian, apalagi ikut ikut aksi demo!!”
“Ngapain si ikut begituan ? Kuliah itu ya di kampus, cari nilai setinggi-tinggi nya!”
Anak perempuan selalu dibatasi, segala tempat seakan berbahaya untuk anak perempuan !!
ini yang membuat perempuan banyak terkungkung oleh bangunan-bangunan kaku, manut pada dosen-dosen kaku, selalu berjalan pada aturan kaku. Dan suatu saat menjadi ibu kaku yang membesarkan anak dengan kaku !!
Lalu tempat apa yang tidak bahaya untuk kami ? Mall, Bioskop ? lagi-lagi bangunan kaku …
Mungkin tempat paling aman untuk perempuan hanya toko sepatu di mall A atau toko Parfum merek ternama di mall B . Pantas saja makin hari perempuan makin hanya dilihat dari merek sepatu dan wangi parfumnya.
Lalu kapan kami dapat mengenal negeri kami jika ke desa saja kami dilarang ? kapan kami tau penderitaan saudara kami di pengungsian bencana jika hanya diizinkan melihat dari layar kaku sambil bergumam “kasihan”.
Rasa Cinta pada Tanah air tidak akan muncul jika hanya melihat Indonesia dari layar kaca.
“Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat” -Gie

